Labels

Sabtu, 12 November 2011

Penyesalan berakhir indah

Tanpa ada kata kau meninggalkanku
Menyisakan luka dihatiku,betapa sakitnya
Relung batinku,merasakan hilangnya cintamu…

Aku mendengarkan salah satu lirik lagu yang membuat hatiku kembali sakit, aku teringat kepergian Alyssa sahabatku yang sangat aku sayang. Aku tidak bisa melupakan dirinya,semakin aku mencoba melupakannya semakin aku teringat padanya. Susah! Ya, memang susah, tidak segampang yang aku bayangkan bila begini akhirnya.
Aku merindukannya,merindukan wajah cantiknya,senyum manisnya,serta perhatiannya. Aku baru menyadari selama ini perasaanku terhadapnya,aku menyayanginya sungguh! Aku sangat menyayanginya lebih dari sahabat.

Andaikan kau masih ada berdiri mendampingiku
Kuingin kau pun tau betapa ku menyayangimu
Andaikan kusanggup untuk memutar kembali waktu
Tak pernah sekejap pun kualihkan engkau dari perhatianku…

Ya,mungkin aku merasa menyesal melewatkan cintanya,aku sudah merasa hancur sekarang. Andai aku sanggup memutar kembali waktu, mungkin aku akan tak melewatkan cintanya,aku akan hidup bahagia bersamanya,tak seperti sekarang ini. Aku rapuh tanpa dia, oh Tuhan aku ingin dia ada kembali disini menemaniku,melangkahkan kaki bersama menuju masa depan yang cerah dengan bahagia.

-ditempat lain (Prancis)-

Dia memang hanya dia,kuselalu memikirkannya
Tak pernah ada habisnya
Benar dia,benar hanya dia,kuselalu menginginkannya
Belaian dari tangannya…

Mungkin hanya dia harta yang paling terindah
Diperjalanan hidupku
Mungkin hanya dia,indahnya sangat berbeda
Kuhaus merindukannya…

Kuingin kau tau isi hatiku
Kaulah yang terakhir dalam hidupku
Tak ada yang lain hanya kamu
Tak pernah ada, takkan pernah ada…

Kuingin kau selalu dipikiranku
Kau yang selalu larut dalam darahku
Tak ada yang lain hanya kamu
Tak pernah ada, takkan pernah ada…


Tak terasa sudah 4 tahun berlalu aku meninggalkan negara Indonesia, tak terasa juga meninggalkan kenangan itu. Lagu yang kudengar tadi sungguh membuat hatiku kembali merasakan galau, aku teringat dia yang disana. Kira-kira apa kabarnya? Aku sudah lama tak mendengar gombalannya itu yang sering membuatku tertawa. Aku merindukan sosok lelaki itu, aku merindukan senyumannya yang manis. Aku merindukannya. Mungkin lagu tadi ada benarnya, mungkin hanya dia indahnya sangat berbeda. Lirik itu benar-benar membuatku semakin haus merindukannya.

Aku mendesah pelan dan aku berharap keputusan yang kuambil ini benar, aku sudah memutuskan untuk menjenguk negara tempat kelahiranku. Semoga saja aku juga bisa bertemu dengannya nanti, aku siap melihat raut wajahnya, dan aku siap untuk menatap dua bola mata indahnya.


-didalam pesawat-

Roda menggelinding diatas landasan,rumah-rumah berpindah jejak. Aku sudah merasakan degup kencang jantungku bersiap untuk bertemu dengannya lagi.

-bandara soekarno hatta-

Ramai hilir mudik manusia-manusia berlalu lalang dikedua mataku. Aku menghirup nafas sebentar dan membuangnya lagi, aku rindu akan atmosfir udara Jakarta ini. Entah sudah berapa lama aku meninggalkan negara ini sehingga membuat diri ku sendiri kikuk dengan keadaan sekarang.


Ini dia yang aku rindukankemacetan Jakarta, entah mengapa aku merindukan kesempitan-kesempitan kendaraan roda empat dan busway dijalan. Aneh? Ya,mungkin. Aku tertawa kecil mengingat perkataanku sendiri. Kendaraan roda empat ini berhenti disalah satu rumahsederhana yang penuh dengan tanaman-tanaman indah ini. Aku tersenyum melihatnya, tak ada yang berubah, hanya saja tanaman ini terlihat lebih indah terawat. Kaki ini melangkah kedepan, terdapat sebuah pintu lalu aku mengetuknya. Datanglah wanita paruh baya yang aku kenal membukakan pintu ini. Dia tersenyum menatapku, aku pun tersenyum dan aku peluk wanita itu.
“non lyssa, akhirnya non lyssa kembali lagi kesini, bibi kangen sama non” ucapnya penuh haru bahagia.
“iya bi aku juga kangen sama bibi, sama semuanya disini” balas ku.
“ayo non masuk”
“baik bi”.


Sesampainya aku disalah satu ruangan yang sangat aku rindukan, masih biru dan masih sama seperti dulu selalu rapi. Aku menatap laki-laki dan perempuan  yang ada dibingkai itu, foto diriku dan dirinya. “aku kangen..” lirihku sambil menatap foto itu. Aku berinisiatif untuk menghubunginya, aku raih benda berbentuk persegi panjang itu lalu aku tekan tombol hijau pada satu nomor yang ku tuju. Terdengar suara laki-laki yang sangat aku kenal memanggil, aku sudah tak kuat lagi untuk melanjutkannya dan aku pun menekan kembali tombol merah. “aku harus bagaimana?” tanyaku bingung.

Suara tentangmu
Bayangan tentangmu
Jarak dan waktu membunuh aku…


Oh ini kisah sedihku
Kumeninggalkan dia,betapa bodohnya aku
Dan kini aku menyesal melepas keindahan
Dan itu kamu…

Tuhan tolonglah aku kembalikan dia
Kedalam pelukku
Karna kutak bisa mengganti dirinya
Kuakui jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa…

Dan tlah kujalani semua cinta selain kamu
Tapi tak ada yang sama
Beribu jalan kutempuh tuk melupakan kamu
Tapi tak mampu…

Tuhan tolonglah aku kembalikan dia
Kedalam pelukku
Karena ku tak bisa mengganti dirinya
Kuakui jujur aku tak sanggup
Sungguh aku tak bisa…

Lagu itu mewakili perasaan hatiku saat ini, aku merasa tak sanggup saat dia memanggilku lewat telepon. Tak ada satu pun suaranya keluar dari bibirnya, padahal aku ingin mendengar suaranya yang sudah lama tak ku dengar. “aku tidak pernah berpikir kalau begini rasanya ketika kamu pergi, hancur. Dan mungkin aku merasakan yang orang-orang katakan” lirihku.


Kaki ini berjalan menuju tepi danau, danau yang dulu memiliki kenangan masa lalu yang tak bisa dilupakan. Sama seperti dulu tak pernah berubah, aku duduk didekat danau dibawah pohon hijau. Aku menutup kedua mata ini, alunan-alunan angin semilir meniupkan sehelai demi sehelai rambutku. “andaikan ku dapat mengungkapkan
Perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya  rasa cintaku
Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku..” aku bersenandung kecil mengikuti hembusan angin yang membawaku.

Aku dikejutkan dengan satu sentuhan dipundakku, aku mencoba membuka mata ini dan melihat siapa. Aku terlonjak kaget mendapati dia ada disini, aku mencoba pergi dari tempat itu tapi dia menahan ku menggenggam tangan ini. “alyssa,jangan pergi dulu” ucapnya, aku hanya bisa diam dan tetap mencoba pergi. “alyssa,maafkan aku” ucapnya sekali lagi.

Akhirnya aku bisa lepas dari genggamannya dan berlari sekuat tenaga, aku berlari dan air mata ini tak bisa ku bendung lagi. Ternyata aku salah, aku belum sanggup bertemu dirinya.


Malam ini aku sedang mendapatkan pekerjaan menjadi penyanyi café, aku sudah mempersiapkan lagunya. Gilirian ku menampilkan suara emasku didepan pengunjung café, sebelum aku memulai bernyanyi, aku pandang seluruh pengunjung café, dan aku tertuju satu pengunjung café dia gadis yang tadi sore aku temui di danau. Aku dikagetkan dengan suara pemilik café agar aku segera bernyanyi.

Baru ku sadari kalau aku kehilangan
Terbangun dari tidurku dan merasakan sepi
Kulihat api dan hujan bagaikan diriku dan dirimu
Sepertinya kau tak sama dengan diri ini
Namun ku yakin kau kembali untukku…

Aku yakin kau milikku
Untuk selamanya disisiku
Ku berlari meraihmu masih kurasakan
Kau milikku selamanya…

Selalu terlihat disetiap mimpiku
Kau mencoba  tuk meraih setiap langkah gerakku
Kulihat bulan dan bintang itulah diriku dan dirimu
Seharusnya kau dan aku tetap memiliki
Namun ku yakin kau kembali untukku…

Suara itu, aku mencoba melihat siapa yang bernyanyi tadi. Ternyata benar dia, tapi dia menatapku dan menuju kearah ku. Dengan cepat aku keluar café, berlari menjauh darinya. Hap! Tangan ku kembali berhasil digenggamnya. Aku menunduk mencoba melepas tangan ini darinya. “alyssa, aku mohon jangan pergi lagi” ucapnya penuh harap. Aku hanya bisa diam tidak memberontak seperti tadi. “alyssa, aku baru sadar semua yang kau katakan benar dan aku minta maaf sama kamu” ucapnya lagi dengan nada penyesalan. “lepasin aku” aku mulai membuka suara. “tidak, aku benar-benar minta maaf sama kamu, maafin aku ya?” ucapnya lembut. “udahlah, lepasin” ucap ku dengan nada sedikit kesal. “lyssa..” panggilnya. Aku memberanikan diri untuk menatapnya tajam kemudian aku berjalan pergi meninggalkannya. “ALYSSA AKU CUMA MAU BILANG SAMA KAMU KALAU AKU SAYANG SAMA KAMU” teriaknya dan berjalan menuju arahku. Hatiku berdesir mendengar pengakuannya dan langkahku terhenti. “aku sayang kamu ssa, aku cinta sama kamu” akunya dengan menatapku tulus. Aku diam aku melihat dari kedua matanya,terlihat kalau dia benar-benar tulus mengakuinya. “kamu mau kan menjalani hari-hari bersamaku selamanya?” tanyanya menatapku dan menggenggam kedua tanganku. Tidak bisa ku pungkiri kalau aku masih mencintai dan menyayanginya, “iya vano aku mau menjalani hari-hari bersamamu selamanya” jawabku sembari tersenyum dan menatap matanya. Dipeluknya tubuh ini dengan penuh cinta dan kasih sayang, “terima kasih alyssa, aku sayang kamu” bisiknya. “aku juga sayang kamu” balasku.

0 comment:

Posting Komentar

Followers